Tampilkan postingan dengan label Poems. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poems. Tampilkan semua postingan

Kopiku-Kopimu

Aku suka kopi,
Tadinya tidak seperti ini.
Mungkin karena kamu.
Kopi mengingatkanku padamu.

Aku suka kopi,
Yang aku minum bersamamu.
Aku suka kopi,
Sesuka aku bersamamu.
Walaupun kamu sama seperti kopi,
Yang ditambah gula tetap pahit.
Walaupun kamu sama seperti kopi,
Yang aku tunggu hingga mengendap.

Aku suka kopi,
Tadinya tidak seperti ini.
Walaupun kini,

Tidak ada kamu disini.

Terpendam

Ribuan kata tersimpan.
Terpendam.
Tanpa pernah diutarakan.

Mendengar
Tanpa pernah didengar.
Sesak dikata,
Tertutup ingar-bingar.

Hasrat ingin teriak!!!
Hati ini terkoyak!!!

Namun aku hanya bisa diam.
Biasa tidak dipedulikan.
Berharap kan teredam.
Bulir hangat tangisan.

Teruntuk

Seseorang yang tlah pergi.

Aku bagai matahari yang mengejar bulan.
Sesaat bertemu di fajar sekejap.
Berbekas... Berbayang...
Kau bersinar tanpa aku disampingmu.
Sosokku hanya berdiam dibelakang bumi
Melihat ceriamu bersama bintang.

Akan aku lepaskan...
Tembok tinggi berhias awan tebal layaknya benteng.
Tertepa angin namun kokoh.
Tuk sembunyikan matahari dari bulan...
Dan...
Langitpun gelap.

Sepasang Sepatu Kulit

Hanya sepatu kulit
Berwarna cokelat di rak putih
Hanya sepatu kulit
Yang aku hafal sosoknya

Bukan tanpa sebab atau alasan
Senyum tiap pagi pada sepatu kulit
Sepatu kulit hanya alasan
Bertemu pemiliknya sangat sulit

Mencuri pandang pada sepatu kulit
Berharap pemiliknya datang melirik
Oh sepatu kulit
Bicaralah aku titip senyum tertarik
Oh sepatu kulit
Sosoknya sangat menarik

Aku. (Jarak). Kamu.

Siang itu mereka berkumpul bersama, menikmati canda tawa dan sesi curhat bersama. Gadis itu datang, kerudung kelabunya berhiaskan mata sembab yang telah lelah menangis. Pelukan penenang telah tersampir padanya. Ceritanya malam tadi sebagai tersangka sifatnya sekarang. Apa mencintai selalu menyakitkan? 

Ego.
Entahlah, pasangan ini selalu berhasil membuat hati gemas. Hanya berkata rindu, namun salah satu pihak enggan berjuang datang. Tinggal berkata maaf, manusia wajar salah bukan? Padahal sayang namun seperti enggan. 

Waktu akan menjelaskan, siapa yang tinggal dan setia.
Waktu akan menjawab, siapa yang pantas diperjuangkan.
Waktu akan menunjukan, siapa yang memang tercipta untukmu.
Pasangan rusuk yang terpisah, akan menyatu.
Jarak yang ada akan digoncang ragu.
Cekcok yang ada akan berujung aku sayang kamu.
Rindu yang ada akan disusul temu.

Sampai akhirnya gadis itu tenang, bentang jarak yang ada tak akan mudah, berkilometer bahkan ratusan. Jarak akan mengajarkan banyak hal : kejujuran, kesetiaan, dan kerinduan. 



Saat Jarak Berbicara

Pagi nan cerah ditemani pesan manis
Selamat pagi, tulisnya
Hari berlalu sampai tidur terlelap
Ponselnya setia di sampingnya.
Lewat ponsel itu mereka kenal
Lewat ponsel itu mereka merajut sapa
Lewat ponsel itu serasa dunia berdua
Lewat ponsel itu serasa jarak tak memisahkan
'Aku merindukanmu' tulisnya
Berharap jarak yang jauh dapat ditempuh dengan pintu kemana saja
'Mari bertemu' katanya
Berharap kata itu sejenak bisa menenangkan saja
Hanya butuh percaya
Tanpa perduli jarak
Hanya butuh setia
Tanpa perduli ia bersama siapa
Tetap bercengkrama
Walau lewat ponsel
Sambil menunggu waktu,
Mereka bisa bersama
Sampai akhirnya,
Menyeruput kopi manis
Sambil menikmati senja bersama.
Walau ragu akan tetap ada
Walau setia menjadi barang langka
Mereka akan berusaha
Hingga waktu mempertemukan mereka.

Senandung Rindu

Aku kira malam bersenandung tentangmu.
Entah mengapa datang sosokmu.
Gelapnya malam tak mengganggu.
Bak sinar bulan diam membelenggu.
Rasanya tlah lama tak bertemu.
Memandangimu.
Bicara padamu.
Hanya seperti ini saja, aku terpaku.
Hati ini tlah membeku.
Semenjak sosokmu tak lagi disampingku.
Rasakanlah, hadirku masih menunggumu.

Surat Pergi

Aku berada di ujung kisah
Dalam perjalanan panjang
Sebuah akhir yang akan mencari awal
Walau kata tak pernah terucap
Biarkan hati ini,
Tanpa satu orang mengusik
Biarkan kisah ini,
Abadi dalam mimpi
Biarkan diri ini,
Perlahan saling terpisah
Dan menjauh...
Senyuman yang sirna dalam layu
Lakuan yang nakal merayu
Jangan mencari
Ketika hati ini berhenti menanti
Aku bukan untukmu lagi,
Sayang.

Diam

Hanya dengan senyumnya,
Debaran ini terasa.
Hanya dengan matanya,
Seolah mengucap kata.
Hanya dengan geriknya,
Hati terasa bahagia.
Pada pandangan pertama
Walau hanya bisa,
Diam di pertemuan pertama.
Hati ini diam
Diam-diam menyimpan rasa.
Dengan caraku
Ku menyayangimu dalam diam
Walau engkau telah dimiliki
Walau engkau tak menyadari
Ada kamu di hatiku,
Ada dia di hatimu.
Lalu untuk apa aku menunggu cinta itu?

Pantai Sepi

Kesal ini merambat
Iri ini mengakar
Sesak ini menyayat
Cemburu ini membakar
Rasanya ingin kembali
Mencari asa yang tersisa
Memupuk harapan yang sirna
Ingin peluk sekali
Sebelum sosok itu hilang
Pergi... Terbang tinggi
Bertanya apa ini nyata?
Meragu pada waktu
Bertanya diri ini siapa?
Mengingat sikap acuh
Menanti apa?
Berharap apa?
Diamlah,
Nikmati semilir angin
Menampar wajah seraya berbisik,
Berhentilah.
Pergilah,
Sejauh jangkauan samudera
Membiarkan ombak sampai ke tepi,
Sosok itu tak mengharap.

Rayuan Pergi

Rindu ini tak tersampaikan
Rindu ini tak pula terucap
Mengepung semua kenangan
Bersatu dengan angan
Angan tinggi tentang seseorang
Tak tahu apa rasa ini
Tak sadar sampai kapan begini
Mungkin kini...
Kau telah pergi
Jauh tinggi menggapai bidadari
Tak apa,
Abaikan rasa hati ini
Salah siapa dulu bertemu?
Kisah semu yang tlah layu
Siapa sosok yang dulu itu?
Pangeran yang tlah berlalu
Hati ini bukan batu
Hati ini milik seseorang yang kau tahu
Pemilik hati yang menunggu
Memupuk kenangan bersama rindu
Pangeran itu mungkin tahu
Pangeran itu mungkin melirik
Pangeran itu mungkin mengerti
Namun ia dungu
Atau memang tak tertarik?
Ada hati yang menanti
Andai bisa,
Hati itu akan ia jaga
Tak kan semudah itu dicuri
Akan mengambil langkah seribu
Menjauh agar tak bertemu
Kini gadis itu diam
Menahan agar tak kembali
'Pengeran itu berwajah palsu'
Gadis itu berteriak,
Pergilah...
Kasih yang tak kan bersatu

Pelangi Kenangan

Ketika rintik hujan tlah berhenti
Cahaya matahari muncul temani senja
Kan ada lukisan indah milikNya
Kini kali terakhir kita bersama pelangi
Bila kini kita beranjak dari sini,
Kenanglah memori,
Senyum manis serta tetes tangis yang menemani
Kawan,
Jangan sebut ini perpisahan..
Kita kan mengingat
Setiap masa kebersamaan
Tiap hari yang terlewat
Tak ada lagi senandung lagu,
Yang biasa hadir saat jam kosong
Tak ada lagi gerutuan,
Yang biasa hadir saat guru menyebalkan
Tak ada lagi ledekan
Tak ada lagi debatan
Kita kan segera berkemas
Kini kita kan pergi
Namun mohon kenanglah
Kenangan indah kebersamaan
Ketahuilah kawan,
Waktu bukanlah kawan yang baik
Waktu kan terlewat dan tak kembali
Namun ketahuilah kawan,
Waktu bersamamu kan kurindukan
Akankah kita kan kembali tuk berjumpa?
Kawan, sampai jumpa sayang!
Doaku kan menyertaimu.

Sendiri

Datang namun pergi lagi.
Biarkan saja sendiri.
Angin berlalu sepi.
Tanpamu sendiri.
Ah sudah biasa begini.
Mungkin kesini sekedar seling.
Sejenak berhenti lalu berpaling.
Hati ini terombang-ambing.
Hati terasa berputar dengan baling-baling.
Rasanya sepi.
Menepi kenangan sunyi.
Hujan menemani.
Rasa ini tak terhenti.
Entah sampai kapan menyimpan rasa ini...
Sendiri.
Bagiku bukan kisah klasik.
Sesaat tersenyum tertarik.
Esok hilang tanpa melirik.
Kisah ini menarik.
Sang hati tak terusik.
Walau dia terus tercabik.

Tak kembali

Denting jarum jam terus terdengar
Seakan ia tak peduli apa yang terjadi
Kenangan yang detik itu berlalu
Tanpa pernah kembali...
Sinar mentari naik dan tenggelam kembali
Seakan ia tak peduli apa yang terjadi
Hari yang terus berganti
Tanpa pernah kembali...
Ah ku kira malam bersama akan teringat
Ah ku kira rasa ini tak sepihak
Ah ku kira aku bisa terus berharap
Sayang, dia tetap bukan milikku
Sayang, rasa ini susah hilang
Sayang, aku hanya bisa lari
Menjauh seperti komet yang meninggalkan angkasa
Menjauh seperti sungai yang tak memiliki samudera
Menjauh tanpa pernah dikejar
Dia hanya seperti air
Air yang kapanpun bisa tergelincir
Tak ada yang dapat ku lakukan
Memungut air itu kembali?
Atau mencari air yang baru?
---
Welcome Back to December. 12/24/2014.

Titip Rindu

Tuhan
Aku jengah dengan kesunyian ini
Sunyi melekat dalam rumah
Rumah yang dulu ada suka duka
Tuhan
Maafkan hamba yang iri
Iri kebersamaan keluarga yang utuh
Kebersamaan yang tak mungkin hadir kembali
Tuhan
Salahkah hamba merindu?
Ingin sekali dimanja Papa
Ingin sekali dirawat Mama
Tidak ada tempat pulang lebih nyaman
Tidak ada kehangatan lebih nyaman
Selain keluarga
Tuhan
Ujianmu membuat kokoh diri ini
Namun
Ujianmu membuat pula rapuh hati ini
Tuhan
Titip rinduku untuk mereka
Titip sayangku pada mereka
Titip kebahagian selalu untuk mereka
Dari anakmu Pa-Ma.

Bila Pantas

Bila Pantas - Puisi

Malam meredam rindu untuk seseorang yang kasat mata disana.
Pantaskah rasa ini ada?
Bila cinta beradu bersama benci yang beriringan.
Bila rindu selalu ada.
Pantaskah rasa ini ada?
Bila rasa yang dulu ada adalah sebuah kesalahan.
Bila kini yang ada hanya rindu tak bertuan.
Pantaskah rasa ini ada?
Bila jarak dan waktu seakan ego yang membentang.
Bila ucapan kasih hanya tinggal bual belaka.
Pantaskah rasa ini ada?
Bila kenangan yang ada, menyisakan ingatan manis yang menyakitkan.
Bila kenangan itu tak lekang waktu.
Pantaskah rasa ini ada?
Bila bertemu enggan.
Bila tak berjumpa merindu.
Bila menjauh sulit.
Bila mendekat salah.
Bila rasa ini hanyalah lantunan emosi jiwa.
Biarlah waktu yang menjawabnya.
Biarlah sepi yang memanggil rindu.
Biarlah ku simpan sendiri.
23 Nov 2014 -Salsa-

Kasih Semu

Kisah Semu - Puisi


Dulu, hari esok adalah bahagia yang ditunggu.
Dulu, malam adalah waktu bertukar kisah.
Dulu, waktu saat bersama ibarat momen yang diharapkan abadi.
Dulu, bertemu adalah senyum pengantar hari.
Dulu, bercanda bersama adalah lelucon yang lucu.

Namun kini semua sirna.
Namun kini kisah manis berubah pilu.
Namun kini kupu-kupu yang dulu hadir t'lah terbangkan sayapnya.
Namun kini rasa tinggal asa.
Namun kini bertemu saja enggan.
Namun kini berjumpa saja seperti benteng.

Ada apa?
Siapa yang membenteng?
Apa rasa yang dulu ada hanya ilusi?
Apa bahagia yang dirasa tak pernah berarti?
Apa rindu yang dulu diucap adalah palsu?
Apa disini hanya sepihak yang merasa?

Hanyalah kisah kasih yang semu.
Hanyalah lantunan emosi yang terhanyut.
Hanyalah angan yang t'lah terbang pergi jauh.
Hanyalah rindu akan masa itu.

Kata rindu

Kata Rindu - Puisi

Ada sebuah kata rindu yang tidak akan pernah terucap.
Ada rindu yang entah bagaimana muncul kembali.
Ada sebuah desiran kasih saat menatap kembali.
Ada sebuah tempat yang hilang tanpanya.

Sebuah kata yang sudah disiapkan bila bertemu,
Sebuah kata yang sulit terucap,
Sebuah kata yang tidak mungkin dirasa,
Sebuah kata yang hanya kembali terpendam,
Rindu.

Kenangan itu kembali berputar seperti klise foto.
Kenangan itu kembali hadir di setiap mimpi.
Kenangan itu mengganggu, namun menyisakan kebahagiaan yang pernah dirasa.

Mungkin harusnya rasa ini tidak pernah ada.
Mungkin harusnya rasa ini terkubur dengan dinginnya tanah.
Mungkin harusnya rasa ini hanyut terbawa ombak.
Mungkin harusnya rasa ini hilang di segitiga bermuda.
Jari pun bermain diatas layar, mencari sebuah nama, mengetik pesan yang tidak pernah dikirim, hanya tertinggal di kotak pesan tersimpan, bertuliskan kata manis yang menyesakan lara,
"Aku rindu."

Timing

Waktu.
Semua hal bisa berubah karena berputarnya bumi, dari siang menjadi malam. Dari hari yang selalu berganti dan tak akan kembali.Tapi, mungkin sang takdir juga mempunyai andil yang sama besar, contohnya tentang perasaan dan cinta. Entah faktor waktu yang telah menentukan takdir, atau mungkin sang waktu dapat mengubah takdir?
Perasaan, waktu, dan takdir, ibarat sebuah benih tanaman mawar. Jika dirawat, bunganya akan tumbuh dan membagi keindahannya, tapi jika diabaikan, akan layu dan mati. Semua bergantung kepada siapa dan bagaimana cara merawatnya. Memberikan cinta agar tumbuh sampai menghasilkan bunga yang indah.
Mungkin kita tidak akan merasakan kehilangan, penyesalan, dan kenangan, apabila kita bisa kembali ke masa lalu...
Kita harus tahu bagaimana pentingnya sang waktu dan tidak untuk menyianyiakannya.
Kita bisa menggunakan waktu untuk ibadah.
Kita bisa menggunakan waktu untuk membantu sesama.
Kita bisa menggunakan waktu untuk menikmati setiap detik bersama orang yang kita sayangi.
Kita bisa menggunakan waktu untuk hidup kita yang sempurna sebagai 'kita'.

Puzzle

Puzzle - Puisi

Keping puzzle itu hilang. 
Keping puzzle itu bersembunyi.
Keping puzzle yang hadir bukanlah pasangannya. 
Entah puzzle itu ada dimana. 
Entah apa puzzle itu akan kembali. 
Nobody knows.

Heran. 

Padahal puzzle itu terlihat sangat sempurna sebelumnya.
Padahal puzzle itu terlihat sangat pas untuk mengisi 'missing piece'.
Puzzle itu terkesan sangat sangat sangat berarti.

Berubah.

Ada ke anehan saat puzzle itu hadir. 
Berusaha mencari letak yang sempurna dengan kepingan yang dianggap sempurna itu. 
Berusaha mengejar puzzle itu bagaimana sulit rintangan. 
Bagaimana sulit menembus ombak, badai, bahkan mengorbankan
 banyak hal lainnya, untuk sekeping puzzle.

Namun puzzle itu kini tak lagi sama. 
Entah apa yang terjadi. 
Mungkin itu adalah sosok puzzle yang asli. 
Yang hadir bukan untuk mengisi, mungkin sekedar melangkapi.