Trip to Bali without airplane and low budget part. 4

Well, this is the last chapter of my trip to Bali. I'm gonna give you some tips that may helpful for you.
Sabtu Pagi tunggu sarapan dari bungalownya dateng, kita packing  baju yang mau dikirim. Setelah kirim baju ke JNE dan mengembalikan motor sewaan, kita check out. Langit Ubud hari itu cerah, bete. Seolah Bali senang gua pergi. Jadi, kita ke terminal Ubung naik apa? Sebenernya sih banyak warga yang jadi driver taxi, but c'mon, you knowlah harganya pasti mahal.

Seperti ini ini yang banyak disayangkan oleh turis asing ataupun lokal. Kita tau kalian cari uang, halal, ya tapi nggak segitu juga harganya. Pas di Kuta gua bertemu turis China yang benar-benar buta Bali. DARI NUNGRAH RAI KE KUTA MASA TARIFNYA 200k! Padahal kalo pakai Grab cuma 25k. Kan konyol. Sayangnya kalo di Ubud Grab car masih sedikit, itu juga belum tentu mau. The other transportation is UBER. Not too much different with Grab, the cost too. Jarak dari Ubud ke Terminal Ubung sekitar 21 km. Lewat Grab, biaya yang kita bayarkan 119k. Lewat Uber, 95-125k. Karena minimnya abang Grab, kita dapat Uber dan pas sampai disana kita bayar argo tertinggi yatu 125k. Gua sih nggak tau fungsi range itu tergantung apa. Bagusnya, gua dapat abang Uber yang baik, katanya 'Kita nyantai saja gapapa kan mba? Saya sekalian pulang ke Jimbaran, ini mobil mau di upacarakan' Yap, kita datang saat tanggal-tanggal upacara keagamaan mereka tentang semua benda berbahan besi, alat transportasi, gitulah. Sebelum sampai terminal kita minta abangnya singgah untuk beli pie susu, kita dapat di pusat oleh-oleh Cening Bagus, harganya bervariasi dari 18.500-35.000.

Sesampainya di terminal, karena kemarin sudah tau situasi dan kondisi di sana, jadi lebih bisa mawas diri. Bis kecil yang tujuan Gilimanuk pun sudah ada. Tarifnya tetap sama, 50k. Tapi dibanding pas pertama datang, ini bis lebih lama karena banyak berhenti naik-turun penumpang. Pas berangkat kita cuma 3,5jam, sementara pas pulang sekitar 4,5jam. Hamparan sawah yang kemarin nggak kelihatan pun tersaji dengan rapi. I'll miss it.

Dari terminal Gilimanuk kita jalan lagi ke loket pejalan kaki Pelabuhan, tarifnya pun sama 6k. Gua menikmati angin laut terakhir di balkon kapal ditemani matahari yang hendak menghilang. Nggak sampai 1 jam, kapal kita sampai di pelabuhan Ketapang. Yap, kembali ke tanah Jawa.
Lapar. Itu yang pertama kali terpikirkan. Sambil jalan ke arah stasiun kita pilih-pilih menu, dan akhirnya berlabuh di Kedai Stasiun pas belokan arah ke Stasiun. Thanks ibu kedai, kita yang nggak tau mau tidur dimana sambil tunggu kereta besok pagi pun diberi tempat. Makanan disana murah dan sesuai. Menu dari pisang bakar, sop iga, chicken katsu, teriaki, pasta, dan sejenisnya tersedia disini. harganya bersahabat. Sangat. dari 5k-40k. Minumnya pun sama, dari jus, milk shake, kopi, squash, dan lain-lain.
Tersedia WiFi.
Dengan lampu lampion warna-warni di ruang semi outdoor, gua suka.
Yap, kita bermalam disana, nggak di luar kok. Paginya pun bapak penjaganya bikinin kita nasi goreng, berasa home stay. Untuk terimaksih kita kasih tip sukarela saja. INI BARU BACKPACKER.
Kereta dari Banyuwangi baru ke Lempuyangan berangkat jam 6.30 dan sampai Lempuyangan jam setengah 8 malam. Jalanan Malioboro ditutup karena lagi ada barongsai. Sialnya, gua sampai sana, Barongsainya udahan. Kita kembali ke The Packer Lodge untuk stay di kamar yang sama juga. Menikmati malam Senin di Malioboro dan rest di Hostel.

Breakfast di The Packer Lodge sistemnya bikin sendiri. Disediakan roti, aneka selai, kopi, teh, dan buah. Setelah makan kita check out tapi titip barang disana. Boleh? Iyap. Karena kita mau ke Taman Sari dan beli oleh-oleh.
Gua ga bisa ngaku kalo kita backpacker. HEHEHE. Dari Jalan Dagen ke Taman Sari cuma 1,6km. Tarif lokal 5k, untuk setiap kamera 2k. Kalo mau menambah wawasan bisa booking tour guide dengan tarif 40-50k.



Setelah menggosongkan badan di Taman Sari karena matahari CERAH DI SANA, kita cari kafe untuk ngadem dulu, di Upgrade Cafe. Setelah itu beli oleh-oleh di Mirota dan lunch disana juga. Sore menjelang kita kembali ke Hostel untuk ambil tas dan ke Stasiun Tugu, coba naik bisnis yang ternyata nggak jauh beda sama ekonomi, padahal costnya 2 kali lipat lebih.
Kita sampai Jakarta jam 3 subuh.. ngaret sejam. Karena KRL ke Bogor baru ada jam 5, gua habiskan untuk bermellow dengan nonton drama korea ditemani kopi dari Sevel.

TIPS:
1. BOOKING TIKET KERETA JAUH-JAUH HARI, apalagi kalo rencana pulang atau pergi di weekend. For me, gua sudah booking sebulan sebelumnya. Pilihan tergantung kalian mau turun di Lempuyangan ataupun Surabaya. Harga dari 74k-220k tergantung kalian juga. Kalian bisa pilih mau stay cari penginapan atau masjid (?) untuk cost yang kalian punya. Karena itu, keberangkatan kereta di pagi hari.
2. JANGAN TERTARIK CALO, usir baik-baik ya, apalagi di Ubung.Naiknya bukan bis besar ya, kayak miniarta gitulah.
3. JANGAN PESAN TRANSPOTASI ONLINE DISEKITAR TRANSPOTASI LOKAL, taulah kenapa.
4. BOOKING PENGINAPAN SESUAI BUDGET. Kalo kalian mau cari teman baru, mending cobain di Hostel. Kalo mau privasi bisa cari Losmen atau hotel murah. Sebenernya lebih murah lewat tarveloka, tapi harus credit card, I prefer booking.com. Bisa disesuaikan tergantung destinasi kalian, kalo mau di Kuta karena bisa iseng ke arah Bali Selatan. Seriosly mending stay di Kuta. I do mistakes karena move ke Ubud kalo kalian niatnya mau jelajah banyak tempat dan ternyata ngehabisin ongkos saja buat ke Ubud dari Kuta.
5. JANGAN DATANG SAAT MUSIM HUJAN DEH :(

FULL COST
Kereta 74 + 94 + 94 + 220 (BISNIS, bisa lebih murah kalo kalian pilih 74k juga) = 482k
Penginapan di Jogja 275k x 2 malam / 2 person = 275k(gua sih di subsidi.-.)
Penginapan di Legian = 120k / bed
Pengnapan di Ubud 290k x 2 malam / 2 person = 145k
Tiket kapal 6k x 2 = 12k
Bis Gilimanuk-Ubung 50k x 2 = 100k
Grab Ubung-Legian 50k / 2 = 25k
Grab Legian-Ubud 150k/ 2 = 75k
Grab Ubud-Ubung 130k / 2 = 65k
Tari Kecak 75k
Taman sari 7rb
Sewa motor 80k / 2 = 40k (bensinnya full .-.)
at least 1.500k. belum sama makan dan banyak yang bisa kalian press dengan nggak nginep di Jogja, nggak pakai kereta bisnis, nggak nonton kecak dan nggak ngegrab. Sekali makan rata-rata 30k, susah cari yang halal, berakhir di rumah masakan Padang. Wisata lainnya yang kemarin gua datangi sisanya nggak pakai bayar.

Be brave. Take risk. Nothing can substitute experience. I'll see you soon Bali!
Happy Holiday

Trip to bali without airplane and low budget part. 3

Besok paginya cuaca di Kuta agak mendukung, setidaknya nggak hujan. Salah, tepatnya belum. Karena pas-pasan kita check out dan nunggu Grab pun hujan turun. Cost dari Jalan Legian ke Ubud tepatnya Jalan Hanoman adalah 143rb. Tapi ya kalo mau kasih tip sih bebas. Sebenarnya ada shuttle bus dari Kuta ke Ubud, but lagi-lagi, agaknya nggak jauh beda kalo kita pakai shuttle bus ataupun Grab. Belum lagi harus sesuaian jadwal dengan penjemputan busnya.

I already miss it.

Musiknya yang makin malam makin ramai, jauh beda dengan Ubud. Yap, kalo yang kalian butuhin adalah relaksasi dari kepenatan, Ubud adalah tempat yang cocok untuk kalian. Salahnya, yang gua butuhin adalah hiburan dan liburan. Sayangnya, cuaca Bali sedang tidak bersahabat. Mungkin itu adalah salah satu alasan untuk balik lagi ke sana.

Sorenya kita gunain untuk belanja aneka handmade stuff disana, mulai dari kain bali, dream catcher, beragam aksesoris, buku organik, dan pajangan lainnya hadir. Jangan harap kehadiran 'pasar' Seni Ubud bakal nemuin harga murah. Disana harga yang ditawarkan adalah untuk turis interlokal. Saran gua mending tanya di toko kecil pinggir jalan.
Pura Saraswati

Pura Ubeh

Kita pun lanjut cari Pura Sarawati yang seharusnya ada tari Kecak, tapi ternyata adanya tari Barong. Jadi kita pindah Pura ke Ubeh untuk nonton kecak dan fire dance, sayangnya lokasinya semi indoor. Perorang bayar 75rb dengan durasi sekitar  1 jam dimulai pukul 19:30wita. Dari sekitar 50an penonton, hanya 3 yang orang lokal. Sisanya, bule dan pakle. Entahlah, jiwa seni gua aja sih kayaknya yang kurang bagus, so i didn't made a review.

But, gua salut dengan adat istiadat di Bali. Segala upacara adat dan keagamaan disana. Nggak peduli lokal atau interlokal, contohnya pas Nyepi. Semua kegiatan bisa berhenti gitu aja, lampu padam, meminimalisir kegiatan yang dilakukan. Gua dapat pelajaran bagus dari cerita abang Grab car, dia saranin cobain rasanya Nyepi di Bali. Kenapa? Malamnya kita bisa lihat Ogoh-ogoh diarak sementara besoknya 24 jam semua kegiatan tidak ada. Katanya, anjing pun nggak ngegonggong saat nyepi. Katanya lagi, alasan harus cobain nyepi adalah untuk mengingat kematian. Karena keadaan yang benar-benar sunyi. Remainder aja sih buat gua personal.

Jumat paginya bagusnya cerah, setelah breakfast dengan roti isi telur dan segelas susu yang dateng hampir jam 10, kita caw ke Sacred Monkey Forest Ubud. Biasa, nengok sodara seperimata. Hal serupa masih terjadi disini, yaitu para Macaca Fascicularis sebagai penghuni Pura keramat. Bagusnya, jangan keluarkan sembarang benda karena monyet disini iseng. Mau foto bareng? Boleh. Pancing monyet dengan pisang, tolong jangan sembarangan kasih mereka makanan. Kata petugas, jangan tatap matanya karena bagi monyet sikap itu menantang mereka dan jangan sentuh mereka kecuali mereka yang menyentuh kita. Hutan ini cukup luas dan rindang.


Pulang dari jenguk sodara, kita balik ke bungalow karena hujan kembali turun. Padahal niat awal kita adalah langsung ke Padang Bai. So, menikmati hujan dengan hawa pedesaan enaknya sambil makan mie kuah dengan cabe rawit dan telur. Abis itu hujan belum berhenti dan ditunggu sambil tidur.
Pantai Padang Bai

Akhirnya hujan berhenti jam 4 sore, kita langsung brb cari rent motor untuk ke Padang Bai. Jaraknya sekitar 37km. Not too far. Sesampainya di Padang Bai yang berpasir kasar, ternyata itu banyak dipakai untuk menyeberang ke Nusa Penida ataupun Lombok. Airnya masih jernih.

So the another alternatif adalah Pantai White Sand Beach atau Bias Tugel. Jaraknya hanya 2km dari Padang Bai. Akses jalannya belum begitu baik karena kita perlu jalan setapak dari parkiran kendaraan. Terbayarkan lah dengan Pantai beasir putih, air biru jernih, sepi, dan dihiasi batuan pinggir pantai. Beautiful. Jujur, ini pantai tercantik yang pernah gua datangi, mungkin gua yang norak. But I really love it. Walaupun hari mendung tanpa adanya matahari terbenam, pantai ini udah cantik. Gua ga yakin bisa describe pantai ini kalo kondisinya cerah. Dengan mata telanjang pun kita bisa liat ikan-ikan. Ombak pun tenang. Seriously perfect. Sayangnya gua ga sempet ke Blue Lagoon Beach. Katanya lebih indah lagi. Dan juga gua ga bisa lama di White Sand Beach karena seharusnya udah tutup jam 6 sore. Bukan apa-apa, di Bogor sih okelah jam 12 malam pun masih ramai. Lah disini jam 7 aja sepi.



Trip to bali without airplane and low budget part. 2

Perjalanan dilanjut hari Selasa dari jam 7.15 sampai 21.15 gua habiskan di kereta. Pegel. Kereta molor sekitar 15 menit karena ada kecelakaan. Beruntungnya, gua ketemu Widi di kereta, doi orang Bali dan mau jalan pulang ke Bali. Berbekal tukeran film drama Korea, gua pun pepet dia biar ngikuti sampai terminal Ubung. Yap. Sukses.

Turun dari kereta kita jalan dikit nggak nyampe 1 km buat ke pelabuhan Ketapang. Kalo ditawarin kendaraan, usir baik-baik aja, dari stasiun kita belok kanan nanti ada atm BNI dan welcome to Pelabuhan Ketapang.


Sesampainya di pelabuhan kita beli tiket seharga 6k. Kapal beroperasi 24 jam dengan lama penyeberangan 1 jam. Jangan lupa identitas dibawa. Turun dari kapal, kita perlu jalan keluar dan kembali di cek identitas oleh petugas, gitu juga untuk di terminal Gilimanuk. Bis malam yang gua tumpangi bertarif 50rb per orang yang normalnya 30rb.

Sesampainya di terminal Ubung, jangan kaget kalo calo bis langsung menyerbu. Hati-hati juga calonya rese dan galak, kalo udah tau mau naik apa langsung ke tempat bis / angkotnya aja, jangan nanya sama calo. Kalo ga tau, mending naik Grab atau sejenisnya, but please jangan minta jemput di deket terminal, kalian jalan ke luar terminal terus belok kanan dan lurus aja. Kalian bisa minta jemput di sekitar lampu merah atau bank Hoki.

Kalo naik angkot, tarif normal 10rb ke Jl. Jendral Sudirman. Abis itu naik bis ke arah Kuta tarifnya 3rb. Kalo gua kemarin jam setengah 4 subuh naik Grab dengan harga 43rb. Not too much different karena gua berdua, dan kemarin ditembak tarif angkot 20rb.
Oh iya, kita  dapat penginapan di Monostel Hostel. Tempatnya di Jalan Legian, menurut gua, tempatnya strategis dan murah. Gua permalam booked lewat booking.com dengan harga 120k. Gua suka sama pegawai disana, ramah-ramah. Yang nggak begitu gua suka, di kamarnya nggak ada peraturan jangan pakai sepatu, jadi di kamar sulit buat shalat. Kamar mandinya ada 4 dilengkapi air hangat juga, cukup bersih. Bagian terfavorit di Monostel adalah Resto and Bar yang persis di lantai bawah hostel. Ala-ala retro vintage gitu, so classy. Breakfastnya juga banyak, voucher bisa di tukar roti, kopi atau teh, buah segar atau jus, dan telur yang bisa di buat beberapa versi. Buat gua sih kenyang.


Kita yang check in subuh pun nggak dikenakan add charged. Setelah mandi dan subuhan, seketemunya kasur langsung tepar karena cuaca mendukung banget buat tidur. Sekitar jam 9 wita. kita cari makan ke arah pantai Kuta, nah yang susah disini adalah cari makan halal, yang kedua harganya yang lumayan mahal, dan yang terakhir karena hujan. Akhirnya gua berhenti terpaksa di salah satu warung makan nasgor, capcai dan kwetiau karena hujan cukup deras. Gua cuma pesan jus mangga dan salad buah, kalo ini worth it karena porsi jumbo dengan harga 15k. Tempat ini nggak jauh dari Australia Resto and bar.


Setelah itu jalan ke pantai Kuta sampai ke pantai Legian. Anginnya kenceng banget karena lagi hujan juga. We just took some photo, biar ceritanya ke pantai lah dan kembali ke hostel. Oh iya, kita sempat mampir di Sour Sally buat beli Yoghurt. I love their wall's.


Sorenya cuaca lebih mendukung dan shopping pun dimulai!!! Dari penginapan ke Joger sekitar 2km, ke pantai Kuta 1km dan pantai Legian 1,3km. Cukup strategis dengan CK di kanan hostel dan Indomart di kiri hostel. Selesai shopping kita simpan oleh-oleh dan balik lagi ke pantai Kuta, nggak ada sunset. Seenggaknya ada pantai.


You never have too much beach.

Trip to Bali without airplane and low budget part. 1

Sesuai judulnya, perjalanan ke Bali tanpa pesawat dan harga murah. Jadi kali ini gua mencoba perjalanan dadakan sedadadakan tahu bulet dadakan. Yap, Bali. Berbekal pengalaman dari blog yang gua baca dan karena ini libur semester terakhir sebelum kedepannya PKL, gua menanfaatkan ini untuk ke Pulau Dewata. Rada salah sebenernya pilih musim hujan.

Gua berangkat dari Bogor tanggal 30 Januari 2017 jam 7 pagi, kereta ke St, Lempuyangan baru berangkat jam 11.30 dengan harga 74k. Ini adalah salah satu rute lewat darat. Jakarta-Lempuyangan-Banyuwangi atau Jakarta-Surabaya-Banyuwangi. I prefer lewat Lempuyangan karena harga kereta lebih murah. Bohong. Sebenernya pengen jalan le Jogja dulu aja. Kereta ke Banyuwangi dari Lempuyangan ataupun Surabaya harganya sama yaitu 94k.

Yang kalian butuhin saat mencoba trip satu ini adalah spare waktu yang panjang, karena kereta ke Lempuyangan atau Surabaya nggak ada yang langsung jalan ke Banyuwangi. Kereta ke Banyuwangi hanya ada 1 tiap harinya dan berangkat tiap pagi, sementara kalo dari Jakarta ke Lempuyangan atau Surabaya baru sampai pada malam hari. Trip ini murah atau nggaknya balik lagi ke kalian, hotel mana yang kalian pilih, fasilitas apa yang kalian mau, dan nekat. Kalo kalian mau ngehemat yang benar-benar hemat kalian butuh mushola atau masjid di sekitaran St. Lempuyangan, ataupun kalian bisa nongkrong di angkringan Malioboro sambil nunggu pagi.

Di trip gua sih nginap di The Packer Lodge Jogjakarta, harga kamarnya (potongan dari booking.com) 277.500 yang normalnya 300k untuk dua orang. Hostel ini model droom gitu, tapi bagusnya nggak droom yang campur orang. Perkamar ada double twin bed, ada twin bed, ada single bed.


I love it! Tempatnya bersih karena kita nggak pake sepatu ke dalamnya, pegawai cukup ramah, suka banget sama design dan tata letak yang cozy. Berasa home sweet home deh! Makanya tanggal 5 Feb saat kita pulang dicancel untuk dipenginapan satunya dan balik booking The Packer Lodge lagi.





Kita check out jam 6 kurang karena sambil nunggu grab car, ongkos dari stasiun Lempuyangan ke penginapan dengan grab car 11k-16k. Penginapan recommended? Yes!

Dan perjalanan kembali berlanjut.

DYI: make your own highlight hair at home

Jadi kali ini gua akan berbagi pengalaman pribadi tentang hair coloring di rumah. Merk cat rambut langganan gua faves karena punya varian warna yang beragam dengan harga terjangkau. Minusnya dari produk ini adalah warnanya nggak begitu tahan lama. Gua pernah coba warna emerald green dan hanya bertahan 3 hari. Warna lainnya kayak maple, floweriness red, red violet bisa bertahan bagus selama 2 minggu sampai 1 bulan. Semua tergantung sering atau nggaknya juga sih kita kontak dengan air.

So pasti kalian butuh hal-hal mendasar seperti sisir cat, mangkuk cat, aluminum foil, karet jepang, jepitan, handuk, hair dryer,  bleaching kit, dan pasti cat rambutnya. Biasa bleaching yang gua pakai adalah merk makarizo, tapi kali ini gua coba punya L'oreal. Untuk cat kali ini gua pakai Faves warna blonde.

Untuk apa karet jepang? Karena disini how to make highlight, jadi kalo nggak punya alat salon kayak  topi untuk pisahin rambut, kita pilih rambut yang ingin diwarnai dengan karet jepang. Pilih sejumput kecil aja. Randomized but harus rapi biar highlightnya bagus.

Setelah itu campur bleaching dengan cairan developernya, gua biasa awal pakai konsentrasi 12% dan bleaching ke dua pakai 9%, tingkat bleaching tergantung jenis rambut ya. Berlaku juga untuk tingkat warna yang dihasilkan. Untuk blonde kali ini gua cuma 2x bleaching dengan waktu 15-20 menit. Jangan terlalu lama steam ya, nantu rambut malah rusak. Sebelum dibleaching lagi tunggu rambut sampai kering setelah dicuci bleaching pertama. Rambut yang dibleaching dibungkus dengan aluminum foil ya.

For sure, ini agak zonk dibanding warna lain yang gua highlight pertama. Bukan catnya, tapi warna yang gua pilih, nggak cocok sepertinya buat gua. So gua timpa cat ini dengan garnier warna burgundy. Jadi sebelum you change your hair color you should think about itu warna cocok atau nggak buat kalian.
First bleaching

Second bleaching

This product I think so recommended for you untuk hair color murah meriah. Jangan lupa di rawat ya soalnya rambut yang udah kena bleaching gampang rusak. Hope it works for you.

Because your hair should have some experience;)





Triptophan

Semester 3, lewat. Libur panjang kali ini mungkin terakhir kalinya sebelum gua PKL, jadi sebelum berhorror ria dengan mata kuliah semester 4 gua harus buat plan liburan. Dimulai dengan Field Trip PVT 52 ke Bandung-Solo-Jogja. Travel yang kita pakai adalah dari Gege Tour and Travel, asli ini nggak endorse. Menurut gua harga yang dibayarkan benar-benar worth it. Nggak mengecewakan dari bis, penginapan, kunjungan dan makanan. Tiap mahasiswa membayar 1.350k. Menurut gua, harga itu sesuai karena jumlah mahasiswa PVT yang nanggung (59 orang). Bis yang kita gunakan Manhattan (gua bukan bis mania loh) cuma karena bis ngga full banyak yang 1 orang 2 seat (contohnya gua). Penginapan yang ditawarkan di Hotel Grand Palace Jogja. Gala dinner di ballroom Gazebo Garden Resto. Kunjungan ke BIB Lembang, Pertenakan Babi di Karanganyar, Goa Pindul, Pantai Indrayanti, dan Malioboro.




Baiklah gua ulas sedikit.


Tanggal 18 Januari 2017 harusnya kita berangkat jam 5 pagi, nyatanya jadwalnya ngaret ke jam 6an. Begitupun jadwal kunjungan ke BIB Lembang, kita baru sampai jam 11an. Disana kita mendengarkan penjelasan selama 2 jam lebihhh di dalam aula. Ngantuk. Asli. Menurut gua ini kurang efektif karena ceritanya kita studi lapangan dan ini lama di aula saja sementara keliling BIB cuma 10 menit karena hari yang sudah siang. Bohong, laper juga sih..
Besoknya jam 9an kita sudah sampai ke salah satu peternakan babi di Karanganyar. Peternakan babi yang cukup baik dari segi kebersihan, kandangan, keamanan, dan kesehatan. Cuma satu hal yang nggak mungkin bisa, kehalalan. Kata bapaknya, babi-babi disana bebas parasit. Nggak cuma hal-hal diatas saja yang diperhatikan, tapi sampai silsilahnya pun jelas. Jadi untuk kalian yang nggak tau siapa kakeknya uyut kalian, kalian kalah sama babi disini. Kita datang disaat yang tepat karena IB sedang berlangsung.

Menurut penjelasan, babi yang warnanya sudah campuran seperti ini adalah babi terakhir dalam keturunannya (alias pasti jadi babi potong).


Selesai di kandang babi kita ke Jogja untuk check in hotel. Lagi-lagi pendapat pribadi, hotelnya nggak sesuai ekspetasi. Bukan maksudnya jelek, cuma dari foto-foto terlihat wah, aslinya yaaa begitu saja. Kamarnya bersih tapi extra bednya kayak terlalu banyak sih, maklum biasa numpuk di kosan eh dikasih kasur banyak malah ngeluh sempit. Sore ini untuk para wanita anak kandang berubah, bersolek ria untuk gala dinner.


Berpindah lokasi ke Gazebo Garden Resto, the big question, kenapa namanya Gazebo Garden tapi kita malah pilih ballroom yang luas banget? Padahal mahasiswanya dikit, seems like hampa.

Hari besoknya jadwal kita main air, kita sampai di Goa Pindul jam 10an dan selesai pas sebelum hujan turun. Dari tempat parkir bus kita naik mobil bak terbuka buat menuju TKP. Tempatnya cukup bersih dan terawat walaupun seadanya, sebelum melintas goa segala macam barang harus ditinggal, termasuk teman wanita yang lagi dapet tamu bulanan. Pastikan sandal yang digunakan tidak mudah lepas ataupun tenggelam, kalaupun membawa gadget, jangan lupa beli waterproof case dulu. Yap yang paling penting jangan sampai tercebur, wassalam. Sialnya gua alergi airnya dan dapat ciuman mesra dari serangga entah apa. Keindahan batuan didalam goa cuma dinikmati benak masing-masing karena mau foto pun sulit.




Setelah Jumatan perjalanan dilanjut ke Kutanya Jogja, Pantai Indrayanti. Untuk Malioboro ya begitu-begitu saja, yang berubah area pejalan kaki sekarang sudah bagus. Personally nggak begitu suka dengan pantai yang ramai. Tapi tetap saja, ombak pantai pasti bisa jadi obat tersendiri. Jangan khawatir buat yang mau photoshoot disini ada jasanya.







I know something about friendship, if someday we won't be together, we've had some memories together. Even it's good or bad times. Time will change everything, but please stay as same.


I don't have a beach on a summer vacation, but I always have a beach.